Rabu, 02 Maret 2016

Gempa berkekuatan 8,3 mengguncang Kepulauan Mentawai Sumatera Barat


Gempa Bumi berkekuatan 8,3 skala richter (SR) mengguncang Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, malam ini (2/3/2016). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa tersebut berpotensi Tsunami.

Gempa yang berpusat di kedalaman 10 km, 682 km Barat Daya Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terjadi pada pukul 19.49.41 WIB. Menurut pantauan ada dua data terjadinya gempa.

BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi terjadinya tsunami akibat dari gempat tersebut.

Sabtu, 27 Februari 2016

Ketua KPU RI Didampingi Ketua KIP Aceh Kunjungi KIP Aceh Utara




















Lhokseumawe, - Ketua KPU RI Husni Kamil Manik dan Ketua KIP Aceh Ridwan Hadi bersama rombongan melakukan silahturahmi ke KIP Aceh Utara.

Dalam kesempatan itu Ketua KPU RI Husni Kamil Manik juga membahas kesiapan dalam menghadapi Pilkada serentak pada Tahun 2017 yang juga di lakukan Provinsi Aceh.

Jumat, 15 Januari 2016

Jum'at Pagi Tim Densus 88 Menggerebek Depok, Tiga Orang Langsung Ditangkap


JAKARTA - Tim Densus 88 Mabes Polri, Jumat (15/1/2016) pagi tadi melakukan penggerebekan di beberapa lokasi terkait kasus teror di Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016) kemarin.

Sebelumnya aksi penggerebekan yang merupakan pengembangan dari teror Sarinah ini sudah dibenarkan oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan. "Densus 88 terus bergerak maksimal, mencari berbagai sasaran yang mereka tuju," ujar Anton.

Sasaran Densus 88 itu, kata Anton, didasarkan pada hasil analisis tim terhadap spesifikasi alat bukti yang ditemukan di sekitar lokasi teror Sarinah.
Jaringan yang disasar itu, sama seperti yang diungkap oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian, yakni Jamaah Anshor Khilafah Nusantara (JAKN), yang dipimpin oleh warga negara Indonesia di Suriah, Bachrum Naim.

Informasi yang dihimpun, penggerebekan dilakukan di sebuah lokasi yang masih berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya, yakni di sekitar Depok, Jawa Barat tepatnya di Jl.H.Dul No 79 Rt.05/05 Kel. Bojong Pd Terong Kec. Cipayung KotaDepok. Selain dilakukan oleh Tim Densus 88, penggerebekan dibantu pula oleh jajaran di Polda Metro Jaya.

Dari hasil penggerebekan di lokasi, ada tiga orang yang diamankan dan saat ini masih diperiksa intensif oleh kepolisian di Polsek Cimanggis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Mohammad Iqbal membenarkan adanya penggerebekan di wilayah hukum Polda Metro tersebut.
"Pagi tadi pukul 05.00 WIB dilakukan penggerebekan di wilayahDepok dan ada tiga orang diamankan. Ini masih terkait peristiwaSarinah,"tambahnya. (TRIBUNNEWS.COM)


Kamis, 14 Januari 2016

Polri: Pelaku Bom Sarinah 7 Orang, 4 Orang Ditangkap


JAKARTA — Kepolisian menyebut bahwa pelaku teror yang beraksi di sekitar Gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2016), berjumlah tujuh orang. Tiga orang di antaranya tewas.
"Saat ini, situasi sudah terkendali, pelaku 7 orang, 3 tertembak mati dan 4 dilumpuhkan dan ditangkap. Seluruh jajaran Polri dan TNI tetap berjaga," demikian informasi yang disampaikan dalam Facebook Divisi Humas Polri.
Polri menyatakan, informasi yang beredar bahwa pelaku membawa motor dan bersenjata lengkap adalah hoax.
"Mari bersama peduli lingkungan sekitar dan saling asuh satu dengan lainnya sehingga jika ada hal yang mencurigakan di lingkungan Mitra Humas, silahkan lapor ke RT/RW dan pospol terdekat," tulis pihak Polri.
Secara terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Agus Rianto memastikan bahwa ledakan dan penembakan yang terjadi hari ini hanya terjadi di wilayah Gedung Sarinah di Jalan MH Thamrin.
"Yang lain tidak ada peristiwa serupa. Hanya di Sarinah," ujarnya.
Sebelumnya, pasca-pemberitaan aksi teror di sekitar Sarinah, beredar di media sosial peristiwa serupa di tempat lain.

Beberapa tempat yang diisukan terjadi ledakan antara lain di Palmerah, beberapa kantor kedutaan besar, dan Alam Sutera. Namun, tidak jelas dari mana sumber berita tersebut (Dikutip dari Kompas.com)

Pelaku Bom Sarinah Sudah Di Lumpuhkan Semua


JAKARTA – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Mohammad Igbal, memastikan, kawasan lokasi pengeboman di sekitar Gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, sudah sepenuhnya dikuasai aparat keamanan.

Iqbal juga memastikan sudah tidak ada lagi pelaku pengeboman yang berhasil lolos. Semuanya, berjumlah empat orang, sudah tewas saat baku tembak dengan petugas, Kamis (14/1).
“Empat pelaku sudah tewas. Sudah tidak ada lagi pelaku dan lokasi sudah kami kuasai,” ujar Iqbal saat diwawancari TVOne, beberapa menit lalu.


Dijelaskan, total ada tujuh korban tewas. Tiga warga sipil, empat pelaku peledakan. “Saya simpulkan, sudah tidak ada lagi pelaku di situ,” terangnya. Igbal mengatakan, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan olah tempat kejadian perkara. (sam/jpnn)

Setelah Ledakan Sarinah Pelaku Kabur ke Gedung Djakarta Theater


JAKARTA - Aparat keamanan terus memburu pelaku ledakan di Sarinah, Jakarta Pusat. Seorang pelaku tampak kabur ke Gedung Djakarta Theater.
Gedung Djakarta Theater berada tepat di samping pusat perbelanjaan Sarinah. Dua gedung itu dipisahkan oleh Jalan KH Wahid Hasyim yang lebarnya sekira tujuh meter.
Berdasarkan pantauan, polisi bersenjata lengkap menyerbu gedung Djakarta Teater tempat pelaku peledakan kabur. Pelaku juga membawa senjata api, sehingga operasi penyergapan ini berjalan sangat hati-hati.
Sementara itu, sejumlah penembak jitu juga dikerahkan untuk melumpukan pelaku. Sekira 100 meter dari lokasi kejadian, disterilkan.

Seperti diketahui, ledakan beruntun terjadi di pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat pagi tadi. Ledakan pertama terjadi di Starbuck Sarinah, kemudian ledakan kembali terjadi di pos polisi yang berada tepat di depan pusat perbelanjaan itu. Selain ledakan, baku tembak juga mewarnai peristiwa ini.

Bertambah 2 Orang Lagi Korban Tewas Ledakan Sarinah


JAKARTA - Korban ledakan benda diduga bom di Pospol Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat bertambah dua orang. Sehingga, korban tewas akibat ledakan ini menjadi lima orang, setelah sebelumnya dilaporkan tiga tewas.
Informasi yang diperoleh di lapangan, Kamis (14/1/2016), korban diketahui seorang wanita yang bekerja sebagai waitress di kafe Starbucks.
Sedangkan satu korban lainnya seorang pria warga negara asing (WNA). Keduanya kini telah dibawa ke rumah sakit terdekat dengan penjagaan polisi.
Seperti diketahui, ada pelaku yang masih berkeliaran di sekitar lokasi kejadian. Penembak jitu dan aparat keamanan bersenjata lengkap masih berupaya melumpuhkan pelaku. Helikopter polisi juga nampak sibuk berputar-putar di sekitar lokasi ledakan dan baku tembak tersebut.

Siapa Pria Naik Motor Trail Bersenjata Lengkap


JAKARTA - Aksi baku tembak yang dilakukan oleh kelompok teroris terjadi di beberapa titik di Ibu Kota. Sirine polisi pun bergemuruh di pusat Kota Jakarta.
Beredar infirmasi yang diterima, ada sekelompok teroris bersenjatakan AK 47 membabi buta menembaki pengguna jalan dan tengah mengarah ke Semanggi.
"Iya tadi dengar info dari radio katanya ada orang naik motor trail hijau dari arah Sarinah menuju ke arah Semanggi atau Bandung 5," kata Kepala Urusan dan Pengamanan Polda Metro Jaya AKP Hasibuan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (14/1/2016).
Hasibuan mengatakan, berdasarkan info yang diterima orang tersebut menggunakan senjata lengkap. Namun, dia belum tahu kebenaran info tersebut.
"Dia bersenjata lengkap. Kita waspadai dan kita perketat," ujarnya.
Hasibuan mengatakan, dirinya sudah menerima perintah dari Kabiro Ops Polda Metro Jaya untuk memperketat pengamanan di pusat keramaian.
"Perintah dari Karo Ops pusat keramaian diperketat, termasuk gereja juga. Itu saya terima perintah dari radio," tutupnya.

(put)

Kronologi Teror Bom Sarinah Jakarta Hari Ini


JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M Iqbal membeberkan kronologi aksi teror yang terjadi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Insiden bermula sekira pukul 11.00 WIB, pelaku menyasar pos polisi yang berada di perempatan Plaza Sarinah dan Bawaslu.

"Saya sampaikan dulu kronologis, sekira pukul 11.00 WIB terjadi ledakan, ada penyerangan ditujukan ke pospol yang pertama," ujar Iqbal di sekitar lokasi, Kamis (14/1/2016).

Akibat serangan tersebut, satu petugas kepolisian mengalami luka berat. Selanjutnya, pelaku menyasar gedung Theater Jakarta, atau Skyline Building yang berada di seberang Plaza Sarinah.

"Setelah itu serangan kedua skyline bulding depan starbuck," imbuhnya.
Iqbal memastikan, polisi langsung bergerak cepat. Bahkan Kapolda Metro Jaya memimpin langsung operasi di sekitar lokasi. "Kita gerak cepat, Kapolda yang mimpin, ada Kapolri juga," tukasnya.


Sabtu, 09 Januari 2016

Jokowi Akan Menghapus Uang Pensiun TNI, Polri dan PNS


Uang pensiun bagi PNS, TNI/Polri yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada 2012 saja, anggaran untuk pensiun PNS, TNI/Polri mencapai Rp69 triliun. Anggaran ini naik menjadi Rp74 triliun di 2013.

Selama ini, uang pensiun bagi PNS, TNI/Polri setiap tahun berasal dari potongan gaji PNS ditambah subsidi dari pemerintah. Tiap bulan, gaji PNS dipotong 10 persen, di antaranya 2 persen untuk Askes, 2,35 persen untuk tabungan hari tua dan 4,75 persen untuk pensiun. Meskipun sudah tidak lagi aktif menjadi PNS atau pensiun, mereka masih menikmati uang negara yang dialokasikan tiap tahun dalam APBN. Pembayaran uang pensiun dengan metode pemotongan gaji dan subsidi dari pemerintah dikenal dengan sistem Pay As You Go.

Dengan disahkannya UU Aparatur Sipil Negara (ASN), pemerintah berencana mengubah mekanisme atau metode pemberian uang pensiun PNS dari Pay As You Go jadi Fully Funded. Aturan ini nantinya akan tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) sebagai turunan UU ASN yang saat ini masih dalam proses pembahasan. Namun dia mengaku tidak bisa menjelaskan lebih detail dengan alasan belum diputuskan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo.

“Iya ini masih dalam pembahasan (mengubah ke Fully Funded), masih wacana dan saya belum bisa jelaskan,” ucap Kabiro Humas Badan kepegawaian Negara (BKN), Tumpak Hutabarat


Rabu, 06 Januari 2016

Presiden Ampuni Din Minimi


JAKARTA -  Presiden  Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan memberikan pengampunan (amnesti) kepada Nurdin bin Ismail alias Din Minimi cs, setelah mantan kombatan GAM itu “turun gunung” pada 28 Desember 2015 seusai bernegosiasi dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn) Sutiyoso. “Proses pemberian amnesti, sejak awal sudah saya sampaikan juga ke Kepala BIN bahwa akan kita berikan. Kita juga lihat masalah HAM dan koridor hukum yang ada. Tapi intinya, akan kita berikan amnesti,” kata Presiden Jokowi dalam rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (5/1).

Rapat terbatas yang juga dihadiri Wapres Jusuf Kalla itu khusus membahas masalah hukum, hak asasi manusia (HAM), dan keamanan dalam negeri. Presiden Jokowi juga mengapresiasi langkah aparat keamanan membujuk kelompok Din Minimi untuk turun gunung dan menyudahi perlawanan bersenjata di Aceh.

Secara khusus, Kepala Negara menyampaikan terima kasih atas kerja keras Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam menyelesaikan masalah Din Minimi.

Presiden mengaku tengah mempertimbangkan untuk menggunakan kewenangan yang diberikan konstitusi kepadanya, seperti hak grasi, rehabilitasi, abolisi, amnesti kepada pihak-pihak yang ingin membangun negeri ini secara bersama-sama.


Din Minimi “Saya Akan Angkat Senjata Lagi” Jika Pemberian Amnesti Harus Melalui Proses Hukum


Orang yang paling di cari di aceh dan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah meletakkan senjata, Din Minimi, mengancam akan kembali memberontak jika harus menjalani proses hukum sebelum mendapatkan amnesti atau pengampunan. “Kembalikan lagi senjata saya. Biar kita perang lagi. Jangan main-main. Kita udah baik-baik, jangan dibuat masalah. Kalau ingin masalah, kita perang lagi,” ungkap Din kepada para wartawan di Aceh, Selasa (05/01).

Din Minimi menyatakan hal itu menanggapi Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan menyebut rencana pemberian amnesti kepada Din, harus dipelajari terlebih dahulu. “Kan itu tidak seperti membalik (telapak) tangan, kita tunggu saja,” kata Luhut kepada wartawan di Jakarta, Senin (04/01). Menurut Din, amnesti yang diketahuinya, “tanpa proses hukum”. “Amnesti yang sudah dulu-dulu (GAM), siapa yang tanggung jawab? Ada proses hukum? Jangan dibuat masalah. Saya sudah selesai buat masalah, jangan lagi dibuat masalah.”


Diminta bersabar

Sebelum proses “penyerahan diri" pada Selasa (29/12), terdapat sejumlah tuntutan yang diminta kelompok Din Minimi. Tuntutan tersebut antara lain pengampunan terhadap para anggotanya yang diduga terlibat kasus-kasus kekerasan, kesejahteraan bagi para mantan kombatan, dan pembangunan rumah untuk yatim piatu korban konflik.


Amnesti disambut baik oleh salah satu anggota kelompok itu, Jalifnir alias Tengku Plang, yang ditahan di lembaga pemasyarakatan Lhoksukon, Aceh Utara, sejak 2015 lalu.
“Bahagia, nanti bisa jumpa sama kawan-kawan, jumpa anak-istri. Akhirnya ada yang menjadi penengah,” ujar Tengku Plang, Selasa (05/01). Namun, karena menilai amnesti “belum diketahui persis” penerapannya, Din meminta rekan-rekannya di tahanan, yang jumlahnya disebut Din mencapai 12 orang, untuk bersabar.

“Ini memang harus membutuhkan proses juga. Lihat saja yang kita perjuangkan dulu. Belum ada senjata, kita perjuangkan senjata. Tidak ada beras, kita cari beras. Butuh waktu. Kalau harapan saya, jangan proses-proses hukum lagi.”

 

Proses hukum terhadap Din

Pengamat radikalisme yang berbasis di Aceh, Al Chaidar, menilai perlu dilaksanakan proses hukum terhadap Din Minimi dan anggotanya yang tidak ditahan, sebelum diberikan amnesti. “Ini supaya tidak terjadi pembangkangan terhadap hukum,” ujar Al Chaidar kepada wartawan, Selasa (05/01).

“Tanpa pengadilan, akan gelap semua tentang apa yang dituduhkan terhadap Din, meskipun dia sudah membantah atas keterlibatannya terhadap sejumlah kasus kekerasan di Aceh.”

“Tanpa ada aduan pun, ini sebenarnya harus diselesaikan secara hukum. Harus dibawa ke pengadilan. Kalau tak ditangani polisi, tetapi langsung intelijen, negara ini akan menjadi negara intelijen, bukan negara hukum.” Sebelumnya, beberapa waktu setelah “penyerahan diri” kelompok pimpinan Din Selasa (29/12), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menyatakan, sebagai “kompensasi,” Din dan anggotanya akan diberi amnesti.

“Itulah yang disebut penyelesaian damai. Tapi tetap diproses hukum. Begitu amnesti turun, dia akan bebas,” kata Sutiyoso kepada wartawan BBC Indonesia,  Selasa (29/12).



Din Minimi Tak Pantas Terima Amnesti Dari Jokowi Menurut Pengiat HAM Rafendi Djamin


JAKARTA -- Rafendi Djamin Direktur Eksekutif Human Rights Working Group (HRWG) menilai Din Minimi tak pantas menerima amnesti dari Presiden Joko Widodo. Menurutnya, apa yang dilakukan pemimpin kelompok bersenjata di Aceh itu berbeda dengan apa yang dilakukan Gerakan Aceh Merdeka dahulu, Rafendi mengatakan, pada 15 Agustus 2005 lalu, kesepakatan damai telah diteken antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia.

Saat itu, kedua pihak sepakat mengakhiri konflik bersenjata. Oleh karena itulah, Rafendi menilai kelompok bersenjata yang memberontak termasuk dalam pelaku kriminal setelah adanya kesepakatan perdamaian tersebut.

"Jadi, Jokowi sebaiknya tidak memberikan amnesti kepada mereka hanya karena ada dorongan politik. Ini adalah persoalan penegakan hukum," kata Rafendi saat ditemui di kantor HRWG, Jakarta, Selasa (5/12). Rafendi pun mempertanyakan upaya Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Sutiyoso yang turun tangan langsung ke Aceh untuk berkomunikasi dengan Din Minimi. Ia menilai tidak seharusnya Sutiyoso melakukan hal tersebut.

"Ada pekerjaan BIN yang lebih besar dibandingkan itu. Ini sudah salah kaprah karena sebenarnya apa yang dilakukan kelompok Din Minimi adalah tindakan kriminal," ujarnya. Karena itulah Rafendi menilai Din harus diproses secara hukum. Setelah proses hukum itu baru pengampunan bisa diberikan.

"Harus konsisten dengan hasil kesepakatan saat perdamaian Aceh. Sekarang pemerintah seharusnya lebih fokus pada pencegahan konflik di Aceh," katanya. Sebelumnya Jokowi menyatakan akan memberikan amnesti kepada Din Minimi dan anak buahnya setelah menyerah.

Kendati demikian, Jokowi tidak menjawab dengan tegas, apakah Din dan para anak buahnya harus menjalani proses hukum terlebih dulu atau tidak. Menurut Jokowi, pemerintah masih harus melihat dinamika yang akan muncul terkait wacana pemberian amnesti itu.(CNN Indonesia)

Senin, 04 Januari 2016

Kapolda Aceh: Din Minimi Menyerah karena Dia Sudah Terdesak



Banda Aceh - Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Husein Hamidi menilai menyerahnya Nurdin Ismail alias Din Minimi karena terdesak operasi yang dilakukan polisi dan TNI dalam mengejar kelompok kriminal bersenjata itu Hal tersebut disampaikan Kapolda dalam konferensi pers di markasnya, Banda Aceh, Kamis, 31 Desember 2015. Menurut Husein, selama ini Din Minimi bersama 20 pengikutnya terus diburu karena diduga melakukan sejumlah aksi kejahatan. “Karena sudah terdesak oleh pengejaran aparat Polri dan TNI, akhirnya berupaya untuk mencari perlindungan, menyerahkan diri kepada Kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Saya pikir seperti itu,” katanya kepada wartawan.

Padahal pihaknya telah berulang kali meminta Din Minimi untuk menyerahkan diri, tapi tak pernah digubris. Kapolda mengakui saat kelompok itu akan dijemput Kepala BIN Sutiyoso di hutan Aceh Timur, pihaknya dan Pangdam Iskandar Muda diberi tahu untuk menahan pergerakan pasukan. Polisi dan TNI menghormati upaya itu.

Husein juga telah menjelaskan kepada Kepala BIN bahwa Din Minimi dan kawannya adalah DPO atau buron pihak kepolisian. "Kita menghormati penanganannya, sambil menunggu perkembangan," katanya. Kapolda berjanji tetap berupaya memproses hukum sejumlah pelanggaran yang dilakukan Din Minimi, sekalipun sudah menyerahkan diri. 

Dalam catatan kepolisian, ada 14 kasus kejahatan yang diduga kelompok tersebut selama ini di Aceh. Kasus termasuk penculikan, pemerasan, penganiayaan, perusakan, pembakaran, dan pembunuhan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selanjutnya juga kepemilikan senjata api ilegal.

Korban aksi kelompok Din Minimi sekitar 17 orang. Dari jumlah itu, dua orang meninggal, yaitu anggota TNI yang diduga dibunuh kelompok tersebut pada akhir Maret lalu. Dalam operasinya membasmi kelompok kriminal di Aceh, polisi juga berhasil menangkap 22 orang dan menewaskan enam orang. Polisi juga ikut menyita 30 pucuk senjata api dengan 4.658 amunisi dan sejumlah magazen serta granat. Dalam setahun terakhir, polisi dan TNI kerap terlibat kontak senjata dengan kelompok kriminal Aceh di beberapa lokasi, yakni Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Besar, dan Pidie. (HD)


Sabtu, 02 Januari 2016

Mau Bertamu ke Rumah Din Minimi Anggota Komite III DPD RI asal Aceh, H Sudirman Harus Melewati Dua Pos Penjagaa dan Pemeriksaan Ketat.



Aceh Timur - Setiap tamu maupun Pejabat yang ingin bersilaturahmi ke rumah Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur, harus menjalani pemeriksaan dua kali oleh anggota Din Minimi “Pengamanannya dua lapis, satu lapis 100 meter dari rumahnya dan lapis kedua diperiksa di pintu pagar masuk ke rumah Din Minimi,” ujar Keuchik Gampong Ladang, Kecamatan Julok, Aceh Timur,Jumat(01/01/2016).

Amatan Lintas Rakyat Post, sejumlah awak media yang mendampingi Anggota Komite III DPD RI asal Aceh, H Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma saat bersilaturahmi ke rumah Din Minimi juga diperiksa oleh anggota Din Minimi. Pemeriksaan itu dilakukan untuk menjaga keamanan supaya jangan ada pihak–pihak yang ingin mengacaukan masuk bertemu Din Minimi. 


Karena keadaan saat ini yang masih dalam proses mediasi pasca Meyerahnya Din Minim. Setiap harinya ratusan tamu berdatangan ke rumah Din Minimi. “Ada yang dari Teunom, Aceh Jaya, Meulaboh, Aceh Utara dan sejumlah daerah lainnya. Tamu – tamu datang untuk bersilaturahmi ke rumah Din Minimi paska ia turun gunung Senin (28/12/2015) lalu.(HD)

Rabu, 30 Desember 2015

Kisah Pesawat Lion yang Terbang dengan Pintu Tak Tertutup Rapat di Udara


Seorang penumpang Lion Air mencurahkan pengalaman buruknya terbang bersama maskapai tersebut. Ia menyebut saat itu pesawat terbang dengan pintu depan tak tertutup rapat. Hampir celaka. Kartini Kongsyahyu menuliskan kengerian itu dalam jejaring sosialnya.

Pesawat dengan nomor penerbangan GT 926 rute Denpasar, Bali-Makassar, Sulawesi Selatan itu seharusnya berangkat pada Minggu, 27 Desember 2015 pukul 21.00 Wita. Namun penerbangan harus tertunda selama 3 jam sebelum akhirnya penumpang dipersilakan naik.

Pengalaman mencekam itu terjadi setelah beberapa menit pesawat Lion Air meninggalkan landasannya. Kartini mengaku mendengar bunyi gemuruh di pesawat yang ditumpanginya."Nah, saat lepas landas mulai terdengar suara aneh. Suara gemuruh keras seperti bunyi 10 vacum cleaner atau 20 hair dryerdinyalakan bersamaan. Awalnya saya pikir bunyi suara hujan, tapi saat saya melihat ke luar jendela, ternyata cuaca agak sedikit berawan dan pesawat agak sedikit berguncang," tulis Kartini dalam akun Facebook-nya yang dikutip Lintas Rakyat Post, "Saya mulai tidak tenang dan curiga. Selama saya traveling tidak pernah sekali pun saya mendengar suara ribut gemuruh seperti itu sebelumnya," ujar dia.

Saat itu, kata dia, awak pesawat mengumumkan jika burung terbang itu akan kembali ke Denpasar karena kerusakan teknis, sementara lampu indikator tanda bahaya juga terus berkedip-kedip."Dan saat mendarat kembali, kami hanya diminta menunggu dalam pesawat selama 20 menit untuk mereka memperbaiki kerusakan dan penerbangan akan dilanjutkan kembali dengan pesawat yang sama," tutur dia.

"Dan kalaupun tidak, maka akan diganti dengan pesawat Lion Air lainnya dan masih harus menunggu. Waktu itu sudah pukul 2 Subuh. Anak saya semua sudah nangis, tertidur tidak jelas arah," ucap Kartini.






Ini Bisa Kita Jadikan Contoh Dalam Penyelesaian Sengketa Ungkap "Sutiyoso"


Lhokseumawe - Dalam Konferensi Pers Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, Menegaskan kepada masyarakat ini bisa kita jadikan contoh dalam penyelesaian sengketa, antara sparatis atau kelompok bersenjata dalam hutan, baik di Aceh maupun di Papua  dan di indonesia umumnya. Selasa 29/12/2015.

Setelah adanya penjelasan kedua belah Pihak antara kelompok Din mini dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) sebanyak 120 Anggota Din Minimi langsung menyerahkan 15 pucuk senjata berbagai jenis dan amunisinya kepada Kepala BIM sutiyoso. 

Namun sebelumnya Din Minimi sudah menjelaskan bahwa ada tiga anggotanya yang sudah memutuskan hubunganya dengan kelompok Din Minimi. " yang kita kuatirkan ada tiga anggotanya yang sudah memutuskan hubunganya dengan kelompok Din Minimi, kita takutnya nanti ketiga orag ini akan membuat warga khawatir. Harapan saya segeralah bergabung biar kita sama-sama menyelesaikannya. Pungkas Sutiyono.

Din Mini juga meminta pengampunan kepada Pemerintah dan amnesti pembebasan untuk seluruh anggotanya serta jaminan keamanan setelah dia menyerahkan senjatanya pada hari Senin, 28/12/2015 . (Kur

Selasa, 29 Desember 2015

BIN Mengelar Konferensi Pers Mengenai Din Minimi Menyerahkan Diri


Lhokseumawe -Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, Selasa 29/12/2015, Mengelar Konferensi Pers mengenai Din Minimi menyerahkan diri bersama kelompoknya di Hotel Lido Graha Lhokseumawe. 

Menurut sutiyoso anggota Din Mini selama ini bukanlah pemberontak dan perampok yang selama ini meresahkan masyarakat, bahkan tidak pernah dia lakukan itu " saya yakin kelompok Din Minimi ini adalah kelompok yang kecewa, mereka tidak puas dengan pimpinan atau elit GAM yang sekarang sedang mendapatkan kesempatan di pemerintahan Aceh, mereka merasa di lantarkan. Kata sutiyoso di konferensi pers 29/12/2015 selasa siang.

Sebelumnya kata sutioso Setelah Bernegosiasi melalui telepon selama dua bulan akhirnya Din Minimi dan anggotanya mau menyerahkan diri dengan memenuhi tuntutan yang selama ini yang di harapkan oleh nggota Din Minimi kepada Pemerintah Aceh. 

Kelima tuntutan itu yaitu Pemerintah Aceh diminta mensejahterakan mantan kombatan GAM, janda dan anak yatim korban konflik, pengampunan dan amnesti pembebasan untuk seluruh anggotanya serta jaminan keamanan ketika dia menyerahkan senjata.

"saya senang karena mereka bukan mintak uang atau pekerjaan, akan tetapi dengan memenuhi lima poin tersebut mereka akan merasa puas, menurut saya itu wajar " Ungkapnya.(Kur)

Detik-Detik Penyerahan Diri Din Minimi dan Kelompoknya.

Berikut kronologi detik-detik penyerahan diri Din Minimi dan kelompoknya.

28 Desember 2015 jam 19.30 WIB
Rombongan tim penjemput yang menggunakan beberapa unit mobil bertemu kelompok Din Minimi di daerah Desa Keude Mesjid Bagok, Nurussalam daerah Aceh Timur.

28 Desember 2015 jam 20.00 WIB
Rombongan tim penjemput dan kelompok Din Minimi yang berjumlah 20 orang yang dibawa menggunakan 2 unit kendaraan bergerak dari lokasi penjemputan melalui Jalan Medan-Banda Aceh menuju ke arah kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur, setelah tiba di Julok, 2 unit mobil yang ditumpangi oleh Deputi 2 Bin dan Direktur 23 beristirahat di Koramil Julok, sedangkan mobil yang membawa KaBin dan kelompok Nurdin Ismail alias Din Minimi beserta seluruh anggotanya langsung menuju ke rumah orang tua Nurdin di Desa Ladang Baroe, Julok, kabupaten Aceh Timur.


28 Desember 2015  jam 21.00 WIB
Rombongan BIN beserta kelompok Din Minimi melaksanakan kegiatan doa bersama dan syukuran di rumah orangtua Nurdin Ismail alias Din Minimi yang dipimpin oleh Tengku dan tokoh masyarakat setempat.

28 Desember Pada jam 23.00 WIB
Diperoleh informasi bahwa rombongan BIN serta kelompok Din Minimi menginap atau bermalam di rumah orangtua Nurdin Ismail alias Din Minimi.

Tanggal 29 Desember 2015 Rombongan Ka Bin beserta seluruh anggota kelompok sipil bersenjata Din Minimi berangkat menuju ke Kota Lhokseumawe.